Alun-alun

Kemarin sore bersama sahabat duduk di sebuah alun-alun kota ternama. Terasa nikmat. Ruang publik kataku membuka pembicaraan. Sahabatpun menyahut betul ini adalah suatu pusat keramaian yang sudah berumur ratusan tahun yang lalu. Dan lihat tata kota hasil dari penjajahan belanda masih terlihat dengan berdirinya Masjid Jami’ dan gereja katedral.

Alun-alun begitu murah meriahnya hiburan di alun-alun tanpa harus menyediakan dana besar, tempat yang eksklusif, atau peralatan yang aneh-aneh. Dibutuhkan hanya ketidak engganan untuk menuju alun-alun itu saja. Kenapa begitu mengasyikkan akan aku ceritakan. Kamu bisa melihat bermacam-macam potret manusia dari mulai pedagang, sebuah keluarga kecil, rombongan cewek abg, atau sekumpulan anak-anak pop lain berjalan tergesa-gesa menyisahkan keinginan untuk diperhatikan (ciri anak yang beranjak dewasa mencari pengakuan diri).

Di alun-alun kita bisa berekrepresi bebas, rata-rata ketika masuk alun-alun orang pasti senang, bergembira. Apalagi keluarga kecil. Mereka yang cemberut akan sirna manakala anak mereka dengan riang gembira menari-nari mengelingi alun-alun. Perhatian bagi pengunjung alun-alun yang membawa anak kecil siap-siap sejumlah uang karena di situ begitu banyak makanan dan mainan yang menarik bagi anak kecil. Kalau ndak pandai-pandai membujuk anak kecil, bakal habis uang di ATM.

Alun-alun juga menjadi ajang mencari nafkah, dengan pakaian seadanya membawa wajan, sekarung jagung dan kipas sudah dapat rejeki. Ya begitulah sederhana sekali, satu persatu jagung yang ada di karung mulai dipesan dan dibakar terus dimakan pengunjung. 2000 lek, dengan logat madura yang kental jagung sudah berpindah tangan. Piro yo perputaran uang di alun2, atau berapa ratus orang yang dapat ternaungi kehidupan ekonominya dari keberadaan alun-alun?

Sayang alun-alun belum menjadi ruang publik yang betul-betul nyaman (lek dibanding ambik central park e manhattan (onok a)). Aku sendiri bingung ketika habis jagungku kemana aku harus membuang sampah, sedangkan di sana tidak ada tempat sampahnya. Knok-knok pak wali tolong setiap sudut alun-alun di beri tempat sampah sehingga pengunjung tidak kebingunan mencari tempat sampah. Penataan pkl kalau baik akan menambah pemandangan alun-alun menjadi asik.

Trus andaikata di alun-alun tersebut ada pengamen seperti di luar negri mungkin menjadi lebih bagus. Ini juga menjadi alat uji coba kesenimanan seorang artis, siapa yang dapat menarik banyak penonton merekalah yang layak menjadi seniman ternama. Karena pengunjung di alun-alun adalah orang yang betul-betul mencari hiburan, dan mereka berangkat dari rumah belum terkontaminasi apa-apa.

Tulis sebuah Komentar