Guci, Madu, Sehelai Rambut

Perumpaan asyik dari nabi kita yang kurekam setelah mendengar seorang ustadz berceramah di sebuah radio. Menggunakan benda-benda sekitar kita untuk memperdalam keimanan.

Kata Abu bakar iman itu lebih indah dari Guci dan lebih manis dari madu, tetapi sangat sulit mendapatkannya seperti meniti sehelai rambut.

Umar berkata kerajaan itu lebih indah dari Guci dan menjadi raja itu lebih manis dari madu, akan tetapi menjadi raja yang adil sama sulitnya meniniti pada sehelai rambut.

Ustman berpendapat lain dia berkata ilmu itu lebih indah dari Guci dan orang yang berilmu itu lebih manis dari madu, akan tetapi mengamalkan ilmu itu sangat sulit, sesulit meniti rambut.

Ali ’Tamu itu lebih indah dari Guci dan menghormati tamu lebih manis dari madu, akan tetapi menjamu tamu sampai dia pulang sama sulitnya meniti pada sehelai rambut.

Fatimah ’Wanita itu lebih indah dari Guci tetapi lebih manis wanita yang beriman, tetapi sangat sulit mendapati wanita yang menjaga kehormatannya sebagaimana sulitnya meniti sehelai rambut’

Rasul ’Taufik Allah lebih indah dari Guci, Orang mendapat taufik Allah lebih manis dari madu, tetapi sangat sulit menjaga Taufik Allah sesulit meniti pada rambut’

Jibril ’Agama itu lebih indah Guci, orang yang beragama itu lebih manis dari madu, akan tetapi menegakkan agama dengan sepenuh jiwa itu seperti berjalan di atas seutas rambut.

Allah berfirman ’SurgaKu lebih indah dari Guci negara manapun, dan orang yang mendapat surga itu lebih manis dari madu, akan tetapi untuk menuju kesana itu sesulit meniti sehelai rambut’

& Komentar

  1. Juli 16, 2008 pada 6:54 am

    Aduh…..yang penting tujuannya tercapai. Yaitu, “bisa paham”. ya…Tidak mengapalah, pakai analogi-analogi terus. Tapi, sekali-kali, nanti, disajikan melalui analisis…he he he peace men.

  2. basoke08 berkata,

    Juli 16, 2008 pada 11:23 pm

    NI posting bukan untuk analisis ketertarikan penulis pada nabi hanya dengan peralatan sederhana berupa guci, madu, dan sehelai rambut dapat memberikan stimulus pada sahabatnya untuk mengungkapkan pandangannya. seperti abu bakar dengan imannya, umar menggunakan kekuasaan, usman dengan ilmunya, ali mamakai tamu,dst. Begono…….. :)

  3. Cahaya Biru berkata,

    Juli 17, 2008 pada 9:03 am

    Ya…saya mengerti. Sejak kemarin-kemarin, posting itu memang bukan analisis.

    Posting itu seperti bau harum masakan yang memancing orang. Ehmm…nyam-nyam…. Perutku telah kenyang dan penuh, seperti air yang memenuhi guci. Tidak tumpah, karena telah kuperbesar guci itu. Agar bisa menampung air lebih banyak.


Tulis sebuah Komentar