Februari 12, 2008 pada 10:43 pm (private)
Tags: hiburan murah, hiburan rakyat, pedagang, ruang publik, seniman
Kemarin sore bersama sahabat duduk di sebuah alun-alun kota ternama. Terasa nikmat. Ruang publik kataku membuka pembicaraan. Sahabatpun menyahut betul ini adalah suatu pusat keramaian yang sudah berumur ratusan tahun yang lalu. Dan lihat tata kota hasil dari penjajahan belanda masih terlihat dengan berdirinya Masjid Jami’ dan gereja katedral.
Alun-alun begitu murah meriahnya hiburan di alun-alun tanpa harus menyediakan dana besar, tempat yang eksklusif, atau peralatan yang aneh-aneh. Dibutuhkan hanya ketidak engganan untuk menuju alun-alun itu saja. Kenapa begitu mengasyikkan akan aku ceritakan. Kamu bisa melihat bermacam-macam potret manusia dari mulai pedagang, sebuah keluarga kecil, rombongan cewek abg, atau sekumpulan anak-anak pop lain berjalan tergesa-gesa menyisahkan keinginan untuk diperhatikan (ciri anak yang beranjak dewasa mencari pengakuan diri).
Di alun-alun kita bisa berekrepresi bebas, rata-rata ketika masuk alun-alun orang pasti senang, bergembira. Apalagi keluarga kecil. Mereka yang cemberut akan sirna manakala anak mereka dengan riang gembira menari-nari mengelingi alun-alun. Perhatian bagi pengunjung alun-alun yang membawa anak kecil siap-siap sejumlah uang karena di situ begitu banyak makanan dan mainan yang menarik bagi anak kecil. Kalau ndak pandai-pandai membujuk anak kecil, bakal habis uang di ATM.
Alun-alun juga menjadi ajang mencari nafkah, dengan pakaian seadanya membawa wajan, sekarung jagung dan kipas sudah dapat rejeki. Ya begitulah sederhana sekali, satu persatu jagung yang ada di karung mulai dipesan dan dibakar terus dimakan pengunjung. 2000 lek, dengan logat madura yang kental jagung sudah berpindah tangan. Piro yo perputaran uang di alun2, atau berapa ratus orang yang dapat ternaungi kehidupan ekonominya dari keberadaan alun-alun?
Sayang alun-alun belum menjadi ruang publik yang betul-betul nyaman (lek dibanding ambik central park e manhattan (onok a)). Aku sendiri bingung ketika habis jagungku kemana aku harus membuang sampah, sedangkan di sana tidak ada tempat sampahnya. Knok-knok pak wali tolong setiap sudut alun-alun di beri tempat sampah sehingga pengunjung tidak kebingunan mencari tempat sampah. Penataan pkl kalau baik akan menambah pemandangan alun-alun menjadi asik.
Trus andaikata di alun-alun tersebut ada pengamen seperti di luar negri mungkin menjadi lebih bagus. Ini juga menjadi alat uji coba kesenimanan seorang artis, siapa yang dapat menarik banyak penonton merekalah yang layak menjadi seniman ternama. Karena pengunjung di alun-alun adalah orang yang betul-betul mencari hiburan, dan mereka berangkat dari rumah belum terkontaminasi apa-apa.
Tinggalkan sebuah Komentar
Januari 26, 2008 pada 10:50 pm (private)
Tags: dhoif, korban, tasriq
Hari tasriq betulkah ada?????
Pertanyaan ini menjadi menarik manakala dering telepon genggam berburnyi dan berkata adik ‘berita buruk’, katanya berkorban pada hari tasriq itu hadistnya dhoif…., lebih menarik lagi hal ini terjadi ketika keinginan hati untuk berkorban telah ditetapkan.
Kata analisis kebijakan, untuk menentukan ini dan itu, maka perlu adanya inventaris permasalahan atau menggali informasi tentangnya. Dan segera kulakukan selidik punya selidik, ustadz agus temanx ambon berkata bahwa pada hari tasriq di mekkah masih dilakukan ibadah qurban, dan ditambah lagi ustadz haris temanx ambon juga. Sedangkan ustadz nya ndaru berkata bahwa pada hari tasriq adalah hari diharamkannya puasa (redaksional saya) atau diperbolehkannya makan dan minum.
Pelajaran yang menarik hari ini.
ilmu agama saya masih sangat jauh dari sempurna.
orang awam banyak membutuhkan kepastian sebuah hukum ibadah (menarik kata ndaru, keputusan diambil jika salah maka pahalanya satu, sedangkan ketika keputusan itu benar maka pahalanya dua)
diskusi tentang ini menjadi pr bagi diri untuk mengetahui benar dan tidaknya sebagai landasan untuk ke depannya (muga-moga besak aku bisa berkorban lagi)
dengarkan hati nurani (au rodo budhek ….. guyon)
jadi keputusannya ………………
mempertimbangkan kemashlahatan
memperhatikan proses pendewasan diri antara lain melatih diri untuk berkorban (ya kalau taun depan punya rejeki)
he…he mendengarkan lagu frank sinatra “my way”
BERKORBANNNNNNNNNNNNNNNNNNNN……
Tinggalkan sebuah Komentar
Januari 23, 2008 pada 10:26 am (private)
Tags: merdeka, Negara
Rabu, 12 Juli 2007
Makan kerapu di sebuah restaurant
Terasa nikmat di kerongkongan
Sambil bincangkan negara
Negaraku yang tercinta
Ada kesedihan di setiap ujungnya
Ada kekonyolan pada pusatnya
Ada apakah dengan dia?
Negaraku yang tercinta
Berseru teman
Sambil menggenggam
Merdeka…lah,
Negaraku yang tercinta
Tak terasa kerapuku habis.
Tinggalkan sebuah Komentar
Januari 21, 2008 pada 11:43 pm (edukasi, private)
14 March 2007
Cerita dari radio
Awal pelajaran seorang kepala sekolah memberitahu bahwa dia akan membuat kelas khusus yang akan ditangani oleh guru-guru yang memenuhi kualifikasi yang bagus. Dan diambil murid-murid dari beberapa kelas, kemudian dia berkata kepada semua murid yang dikumpulkan bahwa di tahun pelajaran ini anak-anakku sekalian terpilih menjadi murid di kelas unggulan yang akan diajar oleh guru-guru yang terunggul di kelas ini. Ketika guru-guru unggulan yang dipilih dihadapkan kepada kepala sekolah berkatalah dia bahwa anda akan menangani siswa-siswa terunggul dari sekolah ini.
Di akhir tahun ajaran baru, terbuktilah bahwa mereka melaksanakan semua yang telah diucapkan kepala sekolah dengan hasil memuaskan. Dan kepala sekolahpun membuka sebuah rahasia yang tidak pernah terpikirkan oleh para guru bahwa siswa-siswa yang dipilih bukan merupakan siswa-siswa unggulan yang seperti diperkirakan sebelum diadakan sekolah unggulan tetapi siswa-siswa biasa yang dipilih secarah acak.
Pesan moral bahwa pujian yang tepat akan menghasilkan tindakan baik, dan keotoritan yang terus menerus akan menimbulkan rasa takut bukan suatu komitmen membangun.
1 Komentar
Januari 21, 2008 pada 11:39 pm (edukasi, private)
21 November 2006
Selasa, di minggu KTSP (Kurikulum Tidak Siap Pakai) beberapa hal bisa dimengerti dari pandangan miring dan pandangan menerima untuk menyelenggarakan pendidikan yang berdasar pada UUD 45.
Pedidikan yang katanya untuk mencerdaskan kini terkontaminasi sendiri oleh pelaku-pelaku yang berada di dalamnya. Imbasnya tidak adanya kepercayaan diri sebagai bangsa menjadikan orientasi pendidikan terasa berjalan terseok.
Banyak lontaran dari pelaku pendidikan yang seringkali menggelitik telinga, kita ini posisinya dimana merencanakan, melakukan atau mengevaluasi sebuah sistem pendidikan. Atau gado-gado yang tahapan suatu proses yang tidak bisa dinalar.
Rancunya kebijaksanaan yang tumpang tindih dan tak dimengerti tujuan secara jelas arahnya, membingungkan !!!!!
Cukup sekian ngerasani ideologi bangsa.
Tinggalkan sebuah Komentar
Januari 20, 2008 pada 12:52 am (private)
my nephew
My brother & sister’s son. I have many nephew. They are funny kids. sometime makes trouble, sometime make everything different.
Tinggalkan sebuah Komentar