Dua topik yang ingin kutulis akhir-akhir ini adalah “Koyok gak duwe gusti Allah” dan yang terakhir ini mungkin asyik untuk dibicarakan “Kampung”
Pertama ingin kukemukakan kata “Koyok gak duwe gusti Allah” pertama kali atau sering kudengar dari Bapak, kata ini sering kali terlontar dalam kondisi-kondisi ketika anaknya mengalam suatu kegelisahan, ketakutan, atau gundah terhadap suatu masalah. Kata ini terucap dengan mantap, tegas, dan sedikit humor. Mantap dan tegasnya ini mungkin tercipta dari kematangan ketauhidan yang telah membentuk bapak. Agak humoris mungkin mencoba mencocokkan tafsir Al Qur’an bahwa kehidupan hanyalah sendau gurau semata dengan kenyataan di masyarakat.
Kedua kampung tempat tinggal baruku. Aku teringat temanku berkata “ning kene iso dadi kampungmu”, yup kampung ini dulu sebelum menjadi warga disini adalah kampung yang sering kusinggahi. Teman yang sering kuinapi tempatnya tularkan kesosialan pada masyarakat dengan kenalkan pemuda setempat. Lambat laun terjalin komunikasi dan bertambahlah perbendaharaan teman di kehidupan sosialku. Tiga tahun yang lalu resmilah aku menjadi warga sini.
Fenomena menarik dari kampung baruku ini adalah halal bi bihalal di kampung yang dibuatkan acara berkumpul bersama di sebuah tempat. Selidik punya selidik ternyata budaya ini telah tercipta mulai tahun 65-an, wao suwene…., dari para tetua mendapatkan alasan bahwa budaya ini untuk menciptakan kondisi agar tidak merepotkan tetangga ketika kita bertandang. Dengan kompleksnya kepentingan manusia budaya ini dapat menjadi tawaran yang menarik.

